ما حوربت قط الا عاد من حرب # أعدى الاعادى
إليها ملقي السلم
Keberhasilan Al-Qur’an dalam
mempengaruhi serta menundukkan para penentangnya telah banyak terjadi dalam
sirah dakwah Nabi Muhamad Saw dan para sahabat. Di antaranya adalah apa yang
terjadi pada Abul Walid Utbah bin Robi’ah bin Abdi Syamsin, seorang pemimpin
Quraisy yang terkenal.
Ketika para pembesar Quraisy
mengetahui akan penyebaran Islam di Makkah maka mereka mengirim Utbah untuk
melobi Rasululluh Saw. Utbah berkata: “Wahai keponakanku! Sesungguhnya kamu
termasuk bagian dari kami dimanapun kamu berada. Dan sesungguhnya kamu telah
membawa perkara yang besar. Kamu membodohkan orang-orang
jenius Quraisy, mencaci maki agama mereka dan agama nenek moyang mereka. Sesungguhnya
aku datang kesini untuk menawarkan kepadamu banyak hal, semoga kamu mau
menerima salah satunya.”
Kemudian Rasulullah
berkata: “Katakanlah!
Wahai Abul Walid, dan aku akan
mendengarkannya.” Setelah itu Utbah
mengajukan kepada Nabi Saw barang-barang yang menawan dalam pandangan mereka.
Diantaranya mereka mempersiapkan mahkota kerajaan untuk dipakaikan kepada
Rasulullah andaikan beliau menginginkannya, menawarkan kekayaan dengan
menyerahkan semua harta benda mereka
kepada Rasulullah, mengangkat Rasulullah menjadi pemimpin mereka atau mengobati Rasulullah dengan harta mereka
seumpama beliau dirasuki oleh jin.
Ketika Utbah menyudahi
pembicaannya, maka Rasulullah berkata: “Wahai Abul Walid! Apakah engkau telah
menyelesaikan perkataanmu?” Utbah menjawab: “Ya.” Lalu Rasulullah berkata:
“Maka dengarkanlah perkataan dariku.” Utbah berkata: “Aku laksanakan.” Kemudian
Rasulullah Saw membacakan kepada Utbah beberapa ayat al-Qur’an
dari surat Fushshilat hingga sampai kepada ayat
Sajdah, lalu Rasulullah bersujud. Sementara Utbah masih tertegun mendengarnya
sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya untuk bersandar.
Kemudian Rasulullah berkata kepada Utbah: “Wahai Utbah! Sungguh kamu telah
mendengarkan apa yang kamu dengar. Maka itu sudah cukup jelas bagimu.”
Selanjutnya Utbah kembali kepada
teman-temannya. Ketika mereka melihatnya, maka sebagian mereka ada yang
berkata: “Telah datang kepada kalian Abul Walid dengan raut muka yang berbeda
dengan sebelumnya.” Setelah Abul Walid duduk manis diantara mereka, mereka
bertanya: “Apa yang terjadi dibelakangmu, Wahai Abul Walid?” Dia menjawab:
“Disana aku mendengarkan perkataan yang -demi Allah- belum pernah aku dengar sama
sekali. Demi Allah! Itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Wahai
Quraisy! Percayailah aku dan bebaskanlah lelaki tersebut dan apa yang dia bawa.
Jauhilah dia! Mereka berkata: “Wahai Abul Walid! Demi Allah, kamu telah disihir
oleh perkataanya.” Utbah berkata: “Inilah pendapatku tentang dia. Selanjutnya
terserah kalian.”
Al-Qur’an di Negeri Habasyah
Pada tahun kelima setelah bi’tsah
(kenabian), yang mana keadaan kaum muslimin
di Makkah masih dalam cengkraman kafir Quraisy,
Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Tujuan utama Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk hijrah agar
mereka selamat dari siksaan dan tekanan kaum Quraisy, bisa konsentrasi penuh
dalam menjalankan syariat agama Islam, dan dapat membaca al-Qur’an dengan tanpa
adanya gangguan. Dipilihlah negeri Habasyah (Ethiopia) sebagai tempat tujuan
hijrah, karena terkenal dengan rajanya yang adil dalam menaungi dan melindungi
para pemeluk agama. Dan akhirnya berangkatlah tidak kurang kira-kira delapan
puluh orang sahabat.
Di saat yang sama, para pembesar
kafir Quraisy menuntut raja Habasyah untuk mengembalikan sahabat Rasulullah Saw
kepada mereka, agar mereka bisa melanjutkan kejahatan dan siksaan. Mereka
mengirimkan duta untuk menghadap sang raja. Duta tersebut bernama Amr bin
Al-Ash As-Sahmi dan Abdullah bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi. Keduanya datang
dengan membawa banyak hadiah dan kenang-kenangan untuk sang raja, para panglima
kerajaan, dan para pendeta.
Sang rajapun akhirnya
membuat majelis umum yang dihadiri oleh tiga golongan, yaitu: delegasi Quraisy, para shahabat Rasulullah
Saw, dan para panglima serta uskup kerajaan. Majelis tersebut dipimpin langsung
oleh sang raja. Beliau pertama kali mengarahkan pembicaraannya kepada para sahabat
seraya berkata: “Apakah nama agama yang sebab itu kalian memisahkan diri dari kaum kalian dan
tidak mau memeluk salah satu dari agama
lainnya?” Kemudian Ja’far bin Abi Thalib berdiri sambil berkata: “Wahai sang
raja! Dahulu kita termasuk komunitas jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan
bangkai dan melaksanakan berbagai macam kejelekan.” Beliau menjelaskan panjang
lebar tentang kondisi pada masa jahiliyah beserta keburukan-keburukannya kepada
sang raja.
Setelah itu sang raja berkata:
“Dahulu kami juga melakukan hal-hal seperti itu hingga Allah Swt mengutus
kepada kita seorang nabi dari bangsa kita sendiri. Kita mengakui kejujurannya,
sifat amanahnya, dan kewira’iannya. Dia menyeru kepada kita untuk menyembah
Allah dan meninggalkan semua yang pernah dilakukan oleh kita sendiri dan nenek
moyang kita.” Selanjutnya Ja’far
menjelaskan kebaikan-kebaikan Islam dan segala perlakuan yang mereka temui dari
kriminal-kriminal Quraisy. Beliau menuturkan semuanya secara rasional dan
dengan lisan yang fasih, sementara sang raja, An-Najasyi, mendengarkan dengan
seksama.
Raja An-Najasyi
berkata: “Apakah kalian membawa sesuatu yang dibawa oleh teman kalian itu
(Muhammad Saw)?” Ja’far menjawab: “Ya.” An-Najasyi berkata: “Maka bacakanlah
kepadaku!” Lalu Ja’far membacakan permulaan Surat Maryam dengan suara yang
lembut hingga akhir ayat : “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Ini adalah) penjelasan
tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, (yakni) Zakaria. Tatkala ia berdoa
berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang
lembut.”
Dalam surat tersebut sarat dengan
kesastraan, penggambaran sikap seorang hamba ketika munajat kepada Tuhannya,
doa Nabi Zakariya kepada Tuhannya, yang membuat hati terharu, dan mengalirkan
air mata. Sebab itu An-Najasyi tidak mampu menahan tangis hingga jenggotnya basah. Begitu juga para uskup,
mereka semua menangis hingga mushaf yang dibawa para sahabat pun basah.
An-Najasyi berkata: “Sesungguhnya agama ini dan apa yang dibawa oleh Musa As,
keluar dari sumber cahaya yang satu.”
Akhirnya beliau memberi izin orang-orang
muslim untuk menetap di negaranya dan mengusir delegasi Quraisy serta menolak
hadiahnya, dan merekapun kembali dengan tangan hampa. Semenjak itu para sahabat
menetap di negeri Habasyah, dan agama Islam serta Al-Qur’an menyebar kepenjuru
negeri tersebut.
Lanjuttt
BalasHapusASHIYAP
Hapus