Sabtu, 07 Maret 2020

PETUALANGAN ALQUR'AN


ما حوربت قط الا عاد من حرب # أعدى الاعادى إليها ملقي السلم


Keberhasilan Al-Qur’an dalam mempengaruhi serta menundukkan para penentangnya telah banyak terjadi dalam sirah dakwah Nabi Muhamad Saw dan para sahabat. Di antaranya adalah apa yang terjadi pada Abul Walid Utbah bin Robi’ah bin Abdi Syamsin, seorang pemimpin Quraisy yang terkenal.
Ketika para pembesar Quraisy mengetahui akan penyebaran Islam di Makkah maka mereka mengirim Utbah untuk melobi Rasululluh Saw. Utbah berkata: “Wahai keponakanku! Sesungguhnya kamu termasuk bagian dari kami dimanapun kamu berada. Dan sesungguhnya kamu telah membawa perkara yang besar. Kamu membodohkan orang-orang jenius Quraisy, mencaci maki agama mereka dan agama nenek moyang mereka. Sesungguhnya aku datang kesini untuk menawarkan kepadamu banyak hal, semoga kamu mau menerima salah satunya.”
Kemudian Rasulullah berkata: “Katakanlah!
Wahai Abul Walid, dan aku akan mendengarkannya.”  Setelah itu Utbah mengajukan kepada Nabi Saw barang-barang yang menawan dalam pandangan mereka. Diantaranya mereka mempersiapkan mahkota kerajaan untuk dipakaikan kepada Rasulullah andaikan beliau menginginkannya, menawarkan kekayaan dengan menyerahkan  semua harta benda mereka kepada Rasulullah, mengangkat Rasulullah menjadi pemimpin mereka atau  mengobati Rasulullah dengan harta mereka seumpama beliau dirasuki oleh jin.
Ketika Utbah menyudahi pembicaannya, maka Rasulullah berkata: “Wahai Abul Walid! Apakah engkau telah menyelesaikan perkataanmu?” Utbah menjawab: “Ya.” Lalu Rasulullah berkata: “Maka dengarkanlah perkataan dariku.” Utbah berkata: “Aku laksanakan.” Kemudian Rasulullah Saw membacakan kepada Utbah beberapa ayat al-Qur’an 

dari surat Fushshilat hingga sampai kepada ayat Sajdah, lalu Rasulullah bersujud. Sementara Utbah masih tertegun mendengarnya sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya untuk bersandar. Kemudian Rasulullah berkata kepada Utbah: “Wahai Utbah! Sungguh kamu telah mendengarkan apa yang kamu dengar. Maka itu sudah cukup jelas bagimu.”
Selanjutnya Utbah kembali kepada teman-temannya. Ketika mereka melihatnya, maka sebagian mereka ada yang berkata: “Telah datang kepada kalian Abul Walid dengan raut muka yang berbeda dengan sebelumnya.” Setelah Abul Walid duduk manis diantara mereka, mereka bertanya: “Apa yang terjadi dibelakangmu, Wahai Abul Walid?” Dia menjawab: “Disana aku mendengarkan perkataan yang -demi Allah- belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah! Itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Wahai Quraisy! Percayailah aku dan bebaskanlah lelaki tersebut dan apa yang dia bawa. Jauhilah dia! Mereka berkata: “Wahai Abul Walid! Demi Allah, kamu telah disihir oleh perkataanya.” Utbah berkata: “Inilah pendapatku tentang dia. Selanjutnya terserah kalian.”
Al-Qur’an di Negeri Habasyah
Pada tahun kelima setelah bi’tsah (kenabian), yang mana keadaan kaum muslimin

di Makkah masih dalam cengkraman kafir Quraisy, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk berhijrah.  Tujuan utama Rasulullah  Saw memerintahkan para sahabat untuk hijrah agar mereka selamat dari siksaan dan tekanan kaum Quraisy, bisa konsentrasi penuh dalam menjalankan syariat agama Islam, dan dapat membaca al-Qur’an dengan tanpa adanya gangguan. Dipilihlah negeri Habasyah (Ethiopia) sebagai tempat tujuan hijrah, karena terkenal dengan rajanya yang adil dalam menaungi dan melindungi para pemeluk agama. Dan akhirnya berangkatlah tidak kurang kira-kira delapan puluh orang sahabat.
Di saat yang sama, para pembesar kafir Quraisy menuntut raja Habasyah untuk mengembalikan sahabat Rasulullah Saw kepada mereka, agar mereka bisa melanjutkan kejahatan dan siksaan. Mereka mengirimkan duta untuk menghadap sang raja. Duta tersebut bernama Amr bin Al-Ash As-Sahmi dan Abdullah bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi. Keduanya datang dengan membawa banyak hadiah dan kenang-kenangan untuk sang raja, para panglima kerajaan, dan para pendeta.
Sang rajapun akhirnya membuat majelis umum yang dihadiri oleh tiga golongan, yaitu:  delegasi Quraisy, para shahabat Rasulullah Saw, dan para panglima serta uskup kerajaan. Majelis tersebut dipimpin langsung oleh sang raja. Beliau pertama kali mengarahkan pembicaraannya kepada para sahabat seraya berkata: “Apakah nama agama yang sebab itu kalian memisahkan diri  dari kaum kalian dan


tidak mau memeluk salah satu dari agama lainnya?” Kemudian Ja’far bin Abi Thalib berdiri sambil berkata: “Wahai sang raja! Dahulu kita termasuk komunitas jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai dan melaksanakan berbagai macam kejelekan.” Beliau menjelaskan panjang lebar tentang kondisi pada masa jahiliyah beserta keburukan-keburukannya kepada sang raja.
Setelah itu sang raja berkata: “Dahulu kami juga melakukan hal-hal seperti itu hingga Allah Swt mengutus kepada kita seorang nabi dari bangsa kita sendiri. Kita mengakui kejujurannya, sifat amanahnya, dan kewira’iannya. Dia menyeru kepada kita untuk menyembah Allah dan meninggalkan semua yang pernah dilakukan oleh kita sendiri dan nenek moyang kita.”  Selanjutnya Ja’far menjelaskan kebaikan-kebaikan Islam dan segala perlakuan yang mereka temui dari kriminal-kriminal Quraisy. Beliau menuturkan semuanya secara rasional dan dengan lisan yang fasih, sementara sang raja, An-Najasyi, mendengarkan dengan seksama. 
Raja An-Najasyi berkata: “Apakah kalian membawa sesuatu yang dibawa oleh teman kalian itu (Muhammad Saw)?” Ja’far menjawab: “Ya.” An-Najasyi berkata: “Maka bacakanlah kepadaku!” Lalu Ja’far membacakan permulaan Surat Maryam dengan suara yang lembut hingga akhir ayat : “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, (yakni) Zakaria. Tatkala ia berdoa

berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”  
Dalam surat tersebut sarat dengan kesastraan, penggambaran sikap seorang hamba ketika munajat kepada Tuhannya, doa Nabi Zakariya kepada Tuhannya, yang membuat hati terharu, dan mengalirkan air mata. Sebab itu An-Najasyi tidak mampu menahan tangis hingga  jenggotnya basah. Begitu juga para uskup, mereka semua menangis hingga mushaf yang dibawa para sahabat pun basah. An-Najasyi berkata: “Sesungguhnya agama ini dan apa yang dibawa oleh Musa As, keluar dari sumber cahaya yang satu.”
Akhirnya beliau memberi izin orang-orang muslim untuk menetap di negaranya dan mengusir delegasi Quraisy serta menolak hadiahnya, dan merekapun kembali dengan tangan hampa. Semenjak itu para sahabat menetap di negeri Habasyah, dan agama Islam serta Al-Qur’an menyebar kepenjuru negeri tersebut.


 

2 komentar: