Selasa, 24 Maret 2020

Sholat Jum'at ( Bagian I )


SHOLAT JUM'AT ( Bagian 1 )

Sehubungan dengan banyaknya attention yang masuk ke Redaksi buletin Al-Fahmu dari warga Nahdliyin Kec. Sugio yang meminta untuk mengulas permasalahan seputar Sholat Jum’at, maka untuk edisi kali ini dan beberapa edisi ke depan, kami akan mengulas seputar permasalahan Sholat Jum’at dengan mengambil referensi dari Kitab-kitab yang bermadzhabkan Syafi’iyah, yang tentunya sesuai dengan pedoman Ahlussunnah Wal Jamaah. Dengan metode yang kami sesuaikan dengan salah satu Kitab yang telah meringkas berbagai Kitab Fiqih Madzhab Syafi’iyah, yakni “At-Taqrirot As-sadidah Fil Masi’il Al-Mufidah Fi Qismi Al-Ibadat”. Semoga bermanfaat…..

Sholat Jum’at
      Sholat Jum’at adalah Sholat dua rokaat yang dilaksanakan pada hari Jum’at dan di waktu Dhuhur. Menurut mu’tamad (pendapat yang lebih dapat dijadikan pegangan), Sholat Jum’at adalah sebuah Sholat yang mandiri, bukan Sholat Dhuhur yang diqoshor (diringkas). Berdasar pada pendapat tersebut maka Sholat Dhuhur tidak dapat menggantikan posisi Sholat Jum’at selama kita masih dimungkinkan melaksanakan Sholat Jum’at dan waktunya belum sempit.
Sholat Jum’at difardlukan di Makkah pada tahun 11 kenabian di malam Rasulullah Saw menjalani Isra’ Mi’raj. Orang pertama yang melaksanakan Sholat Jum’at adalah Sahabat As’ad bin Zuroroh Ra beserta Mush’ab bin Umair Ra di area Quba’ di kota Madinah. Sementara Rasulullah Saw sendiri ketika itu belum melaksanakan Sholat Jum’at di kota Makkah karena kondisi belum memungkinkan disebabkan kaum muslimin waktu itu masih berdakwah secara diam-diam.

Syarat Wajib Jum’at, Ada 7 :
1.       Islam.
         Sholat Jum’at tidak wajib bagi orang kafir asli. Tetapi  bagi orang murtad tetap wajib untuk                 mengqodlo’inya dengan Sholat Dhuhur bila ia kembali pada Islam.
2.       Baligh.
 Sholat Jum’at tidak wajib bagi anak kecil. Tetapi Sholat Jum’at anak kecil tetap sah       apabila ia telah menjadi Mumayiz
3.       Berakal.
  Sholat Jum’at tidak wajib bagi orang gila sekaligus tidak sah 
4.       Merdeka.
 Sholat Jum’at tidak wajib bagi budak. Tetapi Sholat Jum’at yang dilakukan budak tetap   sah.
5.       Laki-laki.
 Sholat Jum’at tidak wajib bagi perempuan dan Khuntsa (Hermafrodit). Tetapi Sholat   Jum’at dari keduanya tetap sah
6.       Sehat.
Sholat Jum’at tidak wajib bagi orang yang sakit, yang mana sakitnya dapat memberatkan untuk menghadiri Sholat Jum’at. Tetapi jika orang yang sakit telah hadir di tempat pelaksanaan Sholat Jum’at setelah zawal (masuk waktu dhuhur), maka ia tidak boleh meninggalkan Sholat Jum’at kecuali apabila dalam masa menunggu pelaksanaan Sholat Jum’at ia menahan rasa sakit yang parah dan ia tidak mampu untuk menahannya.
7.      Muqim.
Sholat Jum’at tidak wajib bagi musafir (orang yang bepergian). Adapun bagi mustauthin hukumnya wajib bahkan lebih.

Definisi Muqim : Orang yang niat bermukim di suatu daerah selama 4 hari atau lebih, dan ia berniat untuk kembali ke daerah asalnya, walaupun masa singgahnya dalam waktu yang lama (bertahun-tahun). Hitungan 4 hari tidak termasuk hari dimana ia memasuki daerah tersebut dan hari dimana ia keluar dari daerah tersebut.

Definisi Mustauthin : Orang yang menetap di suatu daerah (berdomisili), yang mana ia tidak akan keluar dari daerah tersebut, baik di musim kemarau maupun musim hujan kecuali apabila ada hajat. Maka wajib hukumnya melaksanakan Sholat Jum’at bagi Muqim dan Mustauthin.

Selain ketentuan-ketentuan yang telah disebutkan, Sholat Jum’at juga diwajibkan bagi orang-orang yang mana SUARA Adzan Jum’at  dapat terdengar di tempat mereka. Baik warga daerah (desa/kota) asal adzan tersebut, maupun warga daerah (desa/kota) yang bersebelahan dengan daerah (desa/kota) asal dari adzan tersebut.

Klasifikasi orang yang menghadiri Sholat Jum’at, ada 6 :
1.     Orang yang Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah dan Mengesahkan : Mustauthin
2.    Orang yang Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah tetapi tidak dapat Mengesahkan Sholat Jum’at : Muqim
3. Orang yang Wajib Sholat Jum’at, tetapi Sholat Jum’atnya tidak Sah dan tidak dapat Mengesahkan Sholat Jum’at : Orang Murtad.
4. Orang yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, tetapi Sholat Jum’atnya Sah dan Mengesahkan : Mustauthin yang sakit dan orang-orang yang pada diri mereka terdapat sebuah udzur dari beberapa udzur Jum’at, yang dengan udzur tersebut mereka diperbolehkan tidak melaksanakan Sholat Jum’at
5.    Orang yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah, tetapi tidak dapat Mengesahkan Sholat Jum’at : Musafir, Budak, Mumayiz, Perempuan
6.  Orang yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, dan Sholat Jum’atnya Tidak Sah serta tidak dapat Mengesahkan Sholat Jum’at : Orang Kafir Asli (bukan murtad) dan Orang Gila
Permasalahan seputar Sholat Jum’at :
1.    Apabila golongan yang Tidak Wajib Sholat Jum’at telah hadir di tempat dilaksanakannya Sholat Jum’at setelah zawal (masuk waktu Dhuhur), maka tetap diperbolehkan bagi mereka untuk meninggalkan Sholat Jum’at selama mereka belum melakukan Takbiratul Ihram. Kecuali bagi orang yang sakit, maka tetap tidak boleh meninggalkan Sholat Jum’at selama  sakitnya tidak bertambah parah dan ia tidak mampu untuk menahannya.
    Bagi orang-orang yang pada diri mereka terdapat suatu udzur dari beberapa udzur Jum’at, disunnatkan untuk mengadakan Jamaah Sholat Dhuhur. Dan dilaksanakan secara samar (diam-diam) jika memang udzur mereka juga samar (tidak diketahui khalayak). (Udzur-udzur Sholat Jum’at Insya Allah akan kami bahas pada edisi-edisi berikutnya,,red)
3.  Bagi selain orang-orang yang mempunyai udzur Jum’at, Tidak Sah bagi mereka melakukan Takbirotul Ihram Sholat Dhuhur sebelum selesainya salam dari Imam Sholat Jum’at  
4.   Bagi orang-orang yang mempunyai udzur Jum’at dan ada harapan akan hilangnya udzur mereka, disunnatkan untuk mengakhirkan Sholat Dhuhur hingga waktu tidak dimungkinkannya menghadiri jamaah Sholat Jum’at. Yakni ketika Imam Sholat Jum’at telah mengangkat kepalanya dari Ruku’ pada Rokaat yang kedua.


Bersambung……. #GR







Tidak ada komentar:

Posting Komentar