SHOLAT JUM'AT ( Bagian 1 )
Sehubungan dengan banyaknya attention
yang masuk ke Redaksi buletin Al-Fahmu dari warga Nahdliyin Kec. Sugio yang
meminta untuk mengulas permasalahan seputar Sholat Jum’at, maka untuk edisi
kali ini dan beberapa edisi ke depan, kami akan mengulas seputar permasalahan
Sholat Jum’at dengan mengambil referensi dari Kitab-kitab yang bermadzhabkan
Syafi’iyah, yang tentunya sesuai dengan pedoman Ahlussunnah Wal Jamaah.
Dengan metode yang kami sesuaikan dengan salah satu Kitab yang telah meringkas
berbagai Kitab Fiqih Madzhab Syafi’iyah, yakni “At-Taqrirot As-sadidah Fil Masi’il
Al-Mufidah Fi Qismi Al-Ibadat”. Semoga bermanfaat…..
Sholat Jum’at
Sholat Jum’at adalah
Sholat dua rokaat yang dilaksanakan pada hari Jum’at dan di waktu Dhuhur.
Menurut mu’tamad (pendapat yang lebih dapat dijadikan pegangan), Sholat
Jum’at adalah sebuah Sholat yang mandiri, bukan Sholat Dhuhur yang diqoshor (diringkas). Berdasar pada pendapat tersebut
maka Sholat Dhuhur tidak dapat menggantikan posisi Sholat Jum’at selama kita
masih dimungkinkan melaksanakan Sholat Jum’at dan waktunya belum sempit.
Sholat Jum’at difardlukan di Makkah
pada tahun 11 kenabian di malam Rasulullah Saw menjalani Isra’ Mi’raj. Orang
pertama yang melaksanakan Sholat Jum’at adalah Sahabat As’ad bin Zuroroh Ra
beserta Mush’ab bin Umair Ra di area Quba’ di kota Madinah. Sementara
Rasulullah Saw sendiri ketika itu belum melaksanakan Sholat Jum’at di kota
Makkah karena kondisi belum memungkinkan disebabkan kaum muslimin waktu itu
masih berdakwah secara diam-diam.
Syarat
Wajib Jum’at, Ada 7 :
1.
Islam.
Sholat Jum’at tidak wajib bagi orang kafir asli.
Tetapi bagi orang murtad tetap wajib
untuk mengqodlo’inya dengan Sholat Dhuhur bila ia kembali pada Islam.
2.
Baligh.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi anak kecil. Tetapi Sholat Jum’at anak kecil tetap sah apabila ia telah menjadi Mumayiz
3.
Berakal.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi orang gila sekaligus tidak sah
4.
Merdeka.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi budak. Tetapi Sholat Jum’at yang dilakukan budak tetap sah.
5.
Laki-laki.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi perempuan dan Khuntsa (Hermafrodit). Tetapi
Sholat Jum’at dari keduanya tetap sah
6.
Sehat.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi orang yang sakit, yang mana sakitnya dapat memberatkan
untuk menghadiri Sholat Jum’at. Tetapi jika orang yang sakit telah hadir di
tempat pelaksanaan Sholat Jum’at setelah zawal (masuk waktu dhuhur),
maka ia tidak boleh meninggalkan Sholat Jum’at kecuali apabila dalam masa
menunggu pelaksanaan Sholat Jum’at ia menahan rasa sakit yang parah dan ia
tidak mampu untuk menahannya.
7. Muqim.
Sholat
Jum’at tidak wajib bagi musafir (orang yang bepergian). Adapun bagi mustauthin
hukumnya wajib bahkan lebih.
Definisi Muqim : Orang yang niat
bermukim di suatu daerah selama 4 hari atau lebih, dan ia berniat untuk kembali
ke daerah asalnya, walaupun masa singgahnya dalam waktu yang lama
(bertahun-tahun). Hitungan 4 hari tidak termasuk hari dimana ia memasuki daerah
tersebut dan hari dimana ia keluar dari daerah tersebut.
Definisi Mustauthin : Orang yang
menetap di suatu daerah (berdomisili), yang mana ia tidak akan keluar dari
daerah tersebut, baik di musim kemarau maupun musim hujan kecuali apabila ada
hajat. Maka wajib hukumnya melaksanakan Sholat Jum’at bagi Muqim dan Mustauthin.
Selain ketentuan-ketentuan yang
telah disebutkan, Sholat Jum’at juga diwajibkan bagi orang-orang yang mana SUARA
Adzan Jum’at dapat terdengar di tempat
mereka. Baik warga daerah (desa/kota) asal adzan tersebut, maupun warga daerah
(desa/kota) yang bersebelahan dengan daerah (desa/kota) asal dari adzan
tersebut.
Klasifikasi
orang yang menghadiri Sholat Jum’at, ada 6 :
1. Orang
yang Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah dan Mengesahkan : Mustauthin
2. Orang
yang Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah tetapi tidak dapat Mengesahkan
Sholat Jum’at : Muqim
3. Orang yang Wajib
Sholat Jum’at, tetapi Sholat Jum’atnya tidak Sah dan tidak dapat
Mengesahkan Sholat Jum’at : Orang Murtad.
4. Orang
yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, tetapi Sholat Jum’atnya Sah dan Mengesahkan : Mustauthin
yang sakit dan orang-orang yang pada diri mereka terdapat sebuah udzur dari
beberapa udzur Jum’at, yang dengan udzur tersebut mereka diperbolehkan tidak
melaksanakan Sholat Jum’at
5. Orang
yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, Sholat Jum’atnya Sah, tetapi tidak dapat
Mengesahkan Sholat Jum’at : Musafir, Budak, Mumayiz, Perempuan
6. Orang
yang Tidak Wajib Sholat Jum’at, dan Sholat Jum’atnya Tidak Sah serta tidak
dapat Mengesahkan Sholat Jum’at : Orang Kafir Asli (bukan murtad) dan Orang
Gila
Permasalahan seputar Sholat Jum’at :
1. Apabila
golongan yang Tidak Wajib Sholat Jum’at telah hadir di tempat dilaksanakannya
Sholat Jum’at setelah zawal (masuk waktu Dhuhur), maka tetap
diperbolehkan bagi mereka untuk meninggalkan Sholat Jum’at selama mereka belum
melakukan Takbiratul Ihram. Kecuali bagi orang yang sakit, maka tetap tidak
boleh meninggalkan Sholat Jum’at selama
sakitnya tidak bertambah parah dan ia tidak mampu untuk menahannya.
Bagi orang-orang yang
pada diri mereka terdapat suatu udzur dari beberapa udzur Jum’at,
disunnatkan untuk mengadakan Jamaah Sholat Dhuhur. Dan dilaksanakan secara
samar (diam-diam) jika memang udzur mereka juga samar (tidak diketahui
khalayak). (Udzur-udzur Sholat Jum’at Insya Allah akan kami bahas pada
edisi-edisi berikutnya,,red)
3. Bagi selain
orang-orang yang mempunyai udzur Jum’at, Tidak Sah bagi mereka melakukan Takbirotul
Ihram Sholat Dhuhur sebelum selesainya salam dari Imam Sholat Jum’at
4. Bagi
orang-orang yang mempunyai udzur Jum’at dan ada harapan akan hilangnya udzur
mereka, disunnatkan untuk mengakhirkan Sholat Dhuhur hingga waktu tidak
dimungkinkannya menghadiri jamaah Sholat Jum’at. Yakni ketika Imam Sholat
Jum’at telah mengangkat kepalanya dari Ruku’ pada Rokaat yang kedua.
Bersambung……. #GR